Jumat, 22 Agustus 2014

PENINGGALAN PADA MASA PRA-AKSARA

Peninggalan Kebudayaan Masa Praaksara. Kehidupan manusia masa lampau tidak terlepas dari tingkat peradabannya. Tingkat peradaban manusia membawa akibat kehidupannya terpecah menjadi dua babakan yang dikenal dengan istilah : zaman pra aksara (pra sejarah) dan zaman aksara (sejarah. Zaman pra aksara : (pra = sebelum) atau zaman nirlika (nir = hilang), likha atau aksara = tulisan). Jadi, zaman pra aksara atau pra sejarah berarti zaman sebelum ada peninggalan tertulis. Dengan kata lain, suatu masa kehidupan manusia yang belum terdapat keterangan-keterangan yang berupa tulisan.Kebudayaan zaman batu terbagi lagi menjadi kebudayaan zaman batu tua (palaeolithikum), kebudayaan batu madya (mesolithikum), kebudayaan batu muda (neolithikum), dan kebudayaan batu besar (megalithikum).
1. Kebudayaan Batu Tua (Palaeolithikum)
Alat-alat hasil kebudayaan zaman batu tua antara lain.
Kebudayaan Batu Tua (Palaeolithikum)
Nama
Gambar
Keterangan
Kapak Perimbas
Kapak ini terbuat dari batu, tidak memiliki tangkai, digunakan dengan cara menggengam. Dipakai untuk menguliti binatang, memotong kayu, dan memecahkan tulang binatang buruan. Kapak perimbas banyak ditemukan di daerah-daerah diIndonesia, termasuk dalam Kebudayaan Pacitan. Kapak perimbas dan kapak genggam dibuat dan digunakan oleh jenis manusia purba Pithecantropus.
Kapak Genggam
Kapak genggam memiliki bentuk hampir sama dengan jenis kapak penetak dan perimbas, namun bentuknya jauh lebih kecil. Fungsinya untuk membelah kayu, menggali umbi-umbian, memotong daging hewan buruan, dan keperluan lainnya. Pada tahun 1935, peneliti Ralph von Koenigswald berhasil menemukan sejumlah kapak genggam di Punung, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Karena ditemukan di Pacitan maka disebut Kebudayaan Pacitan.
 Alat-alat Serpih (Flakes
Alat-alat serpih terbuat dari pecahanpecahan batu kecil, digunakan sebagai alat penusuk, pemotong daging, dan pisau. Alatalat serpih banyak ditemukan di daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah, masih termasuk Kebudayaan Ngandong.
Perkakas dari Tulang dan Tanduk
Perkakas tulang dan tanduk hewan banyak ditemukan di daerah Ngandong, dekat Ngawi, Jawa Timur. Alat-alat itu berfungsi sebagai alat penusuk, pengorek, dan mata tombak. Oleh peneliti arkeologis perkakas dari tulang disebut sebagai Kebudayaan Ngandong. Alat-alat serpih dan alat-alat dari tulang dan tanduk ini dibuat dan digunakan oleh jenis manusia purba Homo Soloensis dan Homo Wajakensis
2. Kebudayaan Batu Madya (Mesolithikum)
Kebudayaan batu madya ditandai oleh adanya usaha untuk lebih menghaluskan perkakas yang dibuat. Dari penelitian arkeologis kebudayaan batu madya di Indonesia memiliki persamaan kebudayaan dengan yang ada di daerah Tonkin, Indochina (Vietnam). Diperkirakan bahwa kebudayaan batu madya di Indonesia berasal dari kebudayaan di dua daerah yaitu Bascon dan Hoabind. Oleh karena itu pula kebudayaan dinamakan Kebudayaan Bascon Hoabind. Hasil-hasil kebudayaan Bascon Hoabind, antara lain berikut ini.
Kebudayaan Batu Madya (Mesolithikum)
Nama
Gambar
Keterangan
Kapak Sumatra (Pebble)
Bentuk kapak ini bulat, terbuat dari batu kali yang dibelah dua. Kapak genggam jenis ini banyak ditemukan di Sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera, antara Langsa (Aceh) dan Medan.
Kapak Pendek (Hache courte)
No-image
Kapak Pendek sejenis kapak genggam bentuknya setengah lingkaran. Kapak ini ditemukan di sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera.
Kjokken-moddinger
Kjokkenmoddinger berasal dari bahasa Denmark, Kjokken berarti dapur dan modding artinya sampah. Jadi, kjokkenmoddinger adalah sampah dapur berupa kulit-kulit siput dan kerang yang telah bertumpuk. Fosil dapur sampah ini banyak ditemukan di sepanjang Pantai Timur Pulau Sumatera.
Abris sous roche
Abris sous roche adalah gua-gua batu karang atau ceruk yang digunakan sebagai tempat tinggal manusia purba. Berfungsi sebagai tempat tinggal
Lukisan di Dinding Gua
Lukisan di dinding gua terdapat di dalam abris sous roche. Lukisan menggambarkan hewan buruan dan cap tangan berwarna merah. Lukisan di dinding gua ditemukan di Leang leang, Sulawesi Selatan, di Gua Raha, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, di Danau Sentani, Papua. 

3. Kebudayaan Batu Muda (Neolithikum)
Hasil kebudayaan zaman batu muda menunjukkan bahwa manusia purba sudah mengalami banyak kemajuan dalam menghasilkan alat-alat. Ada sentuhan tangan manusia, bahan masih tetap dari batu. Namun sudah lebih halus, diasah, ada sentuhan rasa seni. Fungsi alat yang dibuat jelas untuk pengggunaannya. Hasil budaya zaman neolithikum, antara lain.
Kebudayaan Batu Muda (Neolithikum)
Nama
Gambar
Keterangan
Kapak Persegi
Kapak persegi dibuat dari batu persegi. Kapak ini dipergunakan untuk mengerjakan kayu, menggarap tanah, dan melaksanakan upacara. Di Indonesia, kapak persegi atau juga disebut beliung persegi banyak ditemukan di Jawa, Kalimantan Selatan, Sulawesi, dan Nusatenggara.
Kapak Lonjong
Kapak ini disebut kapak lonjong karena penampangnya berbentuk lonjong. Ukurannya ada yang besar ada yang kecil. Alat digunakan sebagai cangkul untuk menggarap tanah dan memotong kayu atau pohon. Jenis kapak lonjong ditemukan di Maluku, Papua, dan Sulawesi Utara.
Mata Panah
Mata panah terbuat dari batu yang diasah secara halus. Gunanya untuk berburu. Penemuan mata panah terbanyak di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.
Gerabah
Gerabah dibuat dari tanah liat. Fungsinya untuk berbagai keperluan.
Perhiasan
Masyarakat pra-aksara telah mengenal perhiasan, diantaranya berupa gelang, kalung, dan anting-anting. Perhiasan banyak ditemukan di Jawa Barat, dan Jawa Tengah.
Alat Pemukul Kulit Kayu
No-image
Alat pemukul kulit kayu digunakan untuk memukul kulit kayu yang akan digunakan sebagai bahan pakaian. Adanya alat ini, membuktikan bahwa pada zaman neolithikum manusia pra-aksara sudah mengenal pakaian.
4. Kebudayaan Batu Besar (Megalithikum)
Istilah megalithikum berasal dari bahasa Yunani, mega berarti besar dan lithos artinya batu. Jadi, megalithikum artinya batubatu besar. Manusia pra-aksara menggunakan batu berukuran besar untuk membuat bangunan-bangunan yang berfungsi sebagai tempat pemujaan kepada roh-roh nenek moyang. Bangunan didirikan untuk kepentingan penghormatan dan pemujaan, dengan demikian bangunan megalithikum berkaitan erat dengan kepercayaan yang dianut masyarakat pra-aksara pada saat itu. Bangunanmegalithikum tersebar di seluruh Indonesia. Berikut beberapa bangunan megalithikum.
Kebudayaan Batu Besar
Nama
Gambar
Keterangan
Menhir
Menhir adalah sebuah tugu dari batu tunggal yang didirikan untuk upacara penghormatan roh nenek moyang. Menhir ditemukan di Sumatera Selatan, Sulawesi Tengah, dan Kalimantan.
 Sarkofagus
Sarkofagus adalah peti mayat yang terbuat dari dua batu yang ditangkupkan. Peninggalan ini banyak ditemukan di Bali
Dolmen
Dolmen adalah meja batu tempat menaruh sesaji, tempat penghormatan kepada roh nenek moyang, dan tempat meletakan jenazah. Daerah penemuannya adalah Bondowoso, Jawa Timur.
Peti Kubur Batu
Peti Kubur Batu adalah lempengan batu besar yang disusun membentuk peti jenazah. Peti kubur batu ditemukan di daerah Kuningan, Jawa Barat.
Waruga
Waruga adalah peti kubur batu berukuruan kecil berbentuk kubus atau bulat yang dibuat dari batu utuh. Waruga banyak ditemukan di daerah Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara.
 Arca
Arca adalah patung terbuat dari batu utuh, ada yang menyerupai manusia, kepala manusia, dan hewan. Arca banyak ditemukan di Sumatera Selatan, Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Punden Berundak
Punden berundak-undak merupakan tempat pemujaan.Bangunan ini dibuat dengan menyusun batu secara bertingkat, menyerupai candi. Punden berundak ditemukan di daerah Lebak Sibeduk, Banten Selatan.
5. Kebudayaan Zaman Logam
Kebudayaan perunggu di Indonesia diperkirakan berasal dari daerah bernama Dongson di Tonkin, Vietnam. Kebudayaan Dongson datang ke Indonesia kira-kira abad ke 300 SM di bawa oleh manusia sub ras Deutro Melayu (Melayu Muda) yang mengembara ke wilayah Indonesia. Hasilhasil kebudayaan zaman logam, antara lain.
 Kebudayaan Zaman Logam
Nama
Gambar
Keterangan
Nekara
Nekara adalah tambur besar yang berbentuk seperti dandang yang terbalik. Benda ini banyak ditemukan di Bali, Nusatenggara, Maluku, Selayar, dan Irian.
Moko
Nekara yang berukuran lebih kecil, ditemukan di Pulau Alor, Nusatenggara Timur. Nekara dan Moko dianggap sebagai benda keramat dan suci.
Kapak Perunggu
Kapak perunggu terdiri beberapa macam, ada yang berbentuk pahat, jantung, dan tembilang. Kapak perunggu juga disebut sebagai kapak sepatu atau kapak corong. Daerah penemuannya Sumatera Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, dan Irian. Kapak perunggu dipergunakan untuk keperluan sehar-hari.
Candrasa
Sejenis kapak namun bentuknya indah dan satu sisinya panjang, ditemukan di Yogyakarta.
Candrasa dipergunakan untuk kepentingan upacara keagamaan dan sebagai tanda kebesaran.
Perhiasan Perunggu
Benda-benda perhiasan perunggu seperti gelang tangan, gelang kaki, cincin, kalung, bandul kalung pada masa perundagian, banyak ditemukan di daerah Jawa Barat, Jawa Timur, Bali dan Sumatera.
Manik-manik
Manik-manik adalah benda perhiasan terdiri berbagai ukuran dan bentuk. Manik-manik dipergunakan sebagai perhiasan dan bekal hidup enam, bulat, dan oval. Daerah penemuannya di Sangiran, Pasemah, Gilimanuk, Bogor, Besuki, dan Buni.
Bejana Perunggu
Bejana perunggu adalah benda yang terbuat dari perunggu berfungsi sebagai wadah atau tempat menyimpan makanan. Bentuknya bulat panjang dan menyerupai gitar tanpa tangkai. Benda ini ditemukan di Sumatera dan Madura.
Arca Perunggu
Benda bentuk patung yang terbuat dari perunggu menggambar orang yang sedang menari, berdiri, naik kuda, dan memegang panah. Tempat-tempat penemuan di Bangkinang (Riau), Lumajang, Bogor, dan Palembang.

Rabu, 30 Juli 2014

JENIS MANUSIA PURBA YANG DITEMUKAN DI INDONESIA

1. Meganthropus
Manusia purba jenis Meganthropus Paleojavanicus
Gambar. Manusia purba jenis Meganthropus Paleojavanicus (Sumber: kucuba.com)
Meganthropus paleojavanicus merupakan manusia purba tertua di Indonesia yang telah ditemukan di daerah Sangiran oleh Von Koenigswald pada tahun 1936 dan tahun 1941. Kata Meganthropus Palaejavanicus sendiri berasal dari bahasa Yunani, yakni Mega;besar , Anthropus;manusia, Palaeo;tua dan Javanicus;Jawa. Makhluk ini hidup sekitar 1-2 juta tahun yang lalu dengan makanan utamanya adalah tumbuhan.
Adapun ciri-ciri Meganthropus Palaeojavanicus antara lain:
a. Tulang pipi tebal,
b. Otot rahang sangat kuat,
c. Tidak memiliki dagu,
d. Tonjolan belakang yang tajam,
e. Tulang kening menonjol ke depan,
f.   Perawakan tegap,
g. Memakan tumbuh-tumbuhan,
H. Kehidupan sosialnya hidup dalam kelompok-kelompok dan berpindah-pindah.

2. Pithecanthropus
Pithecanthropus memiliki arti sebagai manusia kera yang banyak ditemukan di daerah Perning daerah Mojokerto, Trinil (Ngawi), Kedungbrubus (Madiun) dan Sangiran (Sragen). Tjokrohandojo bersama Duyfjes (ahli purbakala) telah menemukan fosil tengkorak anak pada lapisan Pleistosen Bawah di daerah Kepuhlagen, Mojokerto yang kemudian dinamakan sebagai Pithecanthropus Mojokertensis.
Adapun ciri-ciri Pithecanthropus antara lain:
a. Rahang bawah kuat,
b. Tulang pipi tebal,
c. Kening menonjol,
d. Tulang belakang menonjol dan tajam,
e. Tidak berdagu,
f.  Memakan tumbuh-tumbuhan,
g. Perawakan tegap serta memiliki perlekatan otot tengkuk besar dan kuat.
Di Indonesia sendiri banyak ditemukan jenis Pithecanthropus antara lain:

a. Pithecanthropus Erectus (manusia kera berjalan tegak)
Pithecanthropus Erectus telah ditemukan di daerah Kedungbrubus (Madiun) dan Trinil (Ngawi) pada tahun 1890, 1891, dan 1892 oleh Dr. Eugene Dubois. Penemuan ini dianggap mampu menjadi penghubung (link) yang menghubungkan antara kera dengan manusia. Bukti ini juga didukung dengan penemuan manusia Neanderthal di Jerman.

Adapun ciri-ciri dari Pithecanthropus erectus adalah sebagai berikut:
a) Berjalan tegak,
b) Volume otaknya melebihi 900 cc,
c) Badannya tegap dengan alat pengunyah yang kuat,
d) Tinggi badan sekitar 165 – 170 cm,
e) Berat badan sekitar 100 kg,
f) Makanan masih kasar yang sedikit dikunyah,
g) Diperkirakan hidup setengah sampai satu juta tahun yang lalu.

b. Pithecanthropus Robustus (manusia kera berahang besar)
Fosil Pithecanthropus robustus ditemukan oleh Weidenreich pada tahun 1939 di daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah. Selain itu ditemukan juga fosil tengkorak anak berumur sekitar 5 tahun di daerah Mojokerto oleh Von Koenigswald pada tahun 1936 – 1941 yang kemudian dikenal dengan nama Pithecanthropus Mojokertensis (manusia kera dari Mojokerto). Fosil ini memiliki ciri hidung lebar, tulang pipi kuat, tubuhnya tinggi, serta hidupnya mengumpulkan makanan (food gathering).
Di lembah Sungai Bengawan Solo banyak sekali ditemukan fosil-fosil manusia purba. Oleh karena itu, Dr. Von Koenigswald membagi lapisan Diluvium sungai tersebut menjadi 3 bagian, yakni:
1) Lapisan Jetis (Pleistosen Bawah) telah ditemukan Pithecanthropus robustus,
2) Lapisan Trinil (Pleistosen Tengah) telah ditemukan Pithecanthropus erectus,
3) Lapisan Ngandong (Pleistosen Atas) telah ditemukan Homo soloensis.

c. Pithecanthropus dubuis (dubuis artinya meragukan)
Fosil Pithecanthropus dubuis ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1939 di daerah Sangiran pada lapisan Pleistosen Bawah.

d. Pithecanthropus soloensis (manusia kera dari Solo)
Pithecanthropus soloensis ditemukan pada tahun 1931 – 1933 oleh Von Koenigswald, Oppennoorth, dan Ter Haar di daerah tepi Sungai Bengawan Solo, Jawa Tengah.

3. Homo
Homo (manusia) merupakan manusia purba yang dinilai paling modern daripada jenis manusia purba yang lain. Manusia purba jenis ini memiliki ciri-ciri sebagia berikut:
a) berat badan sekitar 30 sampai 150 kg,
b) volume otaknya lebih dari 1.350 cc,
c) alat-alatnya berasal dari batu dan tulang,
d) berjalan dengan tegak,
e) muka dan hidung lebar,
f) mulut masih menonjol ke depan.

Manusia jenis homo itu sendiri dapat kita bedakan lagi menjadi 3 jenis, yaitu:

a. Homo Wajakensis (manusia dari Wajak)
Homo wajakensis ditemukan pada tahun 1889 oleh Von Rietschoten di daerah Wajak, Tulungagung yang berupa beberapa bagian tengkorak. Fosil ini ditemukan pada Pleistosen Atas dimana termasuk dalam ras Australoid yang bernenek moyang Homo soloensis. Ini kemudian menjadi nenek moyang Australia. Homo Wajakensis oleh Von Rietschoten dimasukan kejenis sebagai manusia purba cerdas (Homo Sapiens).

b. Homo Soloensis (manusia dari Solo)
Pada tahun 1931 – 1932, ahli Geologi Belanda (C. Ter Haar dan Ir. Oppenoorth) menemukan 11 tengkorak Homo soloensis pada lapisan Pleistosen Atas di daerah Ngandong, Ngawi, Jawa Timur. Fosil itu kemudian diteliti oleh Von Koenigswald dan Weidenreich yang kemudian diketahui bahwa fosil tersebut merupakan fosil sudah manusia (bukan kera).

c. Homo sapiens
Homo sapiens merupakan manusia purba yang cerdas dan bentuk tubuhnya seperti manusia zaman sekarang. Kehidupan manusia purba ini masih sering berpindah-pindah (mengembara) dan sangat sederhana. 

Adapun ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a. volume otak sekitar 1.000 cc – 1.200 cc,
b. tinggi badannya bisa mencapai antara 130 – 210 m,
c. otot tengkuk telah mengalami penyusutan,
d. alat kunyah dan gigi telah mengalami penyusutan,
e. muka sudah tidak menonjol ke depan,
f. berdiri dan berjalan dengan tegak,
g. berdagu serta tulang rahangnya biasa dan tidak sangat kuat.

Ada 3 jenis subspesies dari Homo sapiens yang dianggap telah menurunkan manusia saat ini, yaitu:
1) Ras Mongoloid
Ras Mongoloid menyebar ke Asia Timur seperti Jepang, Korea, Cina dan Asia Tenggara. Jenis subspesies ini memiliki ciri-ciri kulit kuning, tipe rambut lurus dan mata sipit.
2) Ras Kaukasoid
Ras Kaukasoid menyebar ke Eropa, India Utara (ras Arya), Yahudi (ras Semit) dan menyebar ke daerah Arab, Turki serta daerah Asia Barat lainnya. Jenis subspesies ini memiliki ciri-ciri kulit putih, rambut lurus, tinggi dan berhidung mancung.
3) Ras Negroid
Ras Negroid menyebar ke Australia (ras Aborigin), Papua dan ke daerah Afrika. Jenis subspesies ini memiliki ciri-ciri kulit hitam, bibir tebal dan rambut keriting.

Selasa, 29 Juli 2014

ZAMAN PRA-AKSARA


Mempelajari bagaimana kehidupan di masa lalu merupakan kegiatan yang amat menarik. Kehidupan manusia dari zaman ke zaman senantiasa mengalami perkembangan. Kehidupan manusia pada zaman pra aksara dapat di pelajari melalui berbagai temuan fosil dan artefak sisa kehidupan dimasa lalu. Kehidupan manusia purba adalah kehidupan yang amat sederhana. Manusia purba hidup dan memenuhi kebutuhannya dengan cara berburu dan meramu, berpindah pindah dari satu empat ketempat lain (nomaden). Pada masa pra sejarah manusia belum mengenal tulisan sehingga masa ini di sebut dengan masa pra aksara. Sejak pertama kali bumi diciptakan hingga saat ini, bumi telah banyak sekali mengalami perubahan dan perkembangan. Diperkirakan bumi saat ini telah berusia kurang lebih 2.500 juta tahun. Para ahli geologi membagi masa perkembangan bumi mejadi beberapa zaman yaitu arkeozoikum, paleozoikum, mesozoikum, neozoikum.
  1. Zaman Arkeozoikum. Merupakan zaman tertua, berlangsung kira-kira 2.500 juta tahun yang lalu. Pada masa itu bumi dalam proses pembentukan, permukaan bumi masih sangat panas sehingga belum terdapat makhluk hidup yang tinggal di bumi. 
  2. Zaman Paleozoikum Disebut juga sebagai zaman primer, berlangsung kira-kira 340 juta tahun yang lalu. Zaman ini ditandai dengan terjadinya penurunan suhu yang amat drastis di bumi, bumi mendingin. Pada masa inilah makhluk hidup pertama kali diperkirakan muncul, yaitu makluk bersel satu dan tidak bertulang belakang seperti bakteri, serta sejenis amfibi.
  3. Zaman Mesozoikum Disebut juga sebagai zaman sekunder, berlangsung kira-kira 140 juta tahun yang lalu. Zaman ini ditandai dengan munculnya hewan-hewan reptil besar (dinosaurus) oleh karena itu zaman ini disebut juga zaman reptil.
  4. Zaman Neozoikum Zaman Neozoikum berlangsung kira-kira 60 juta tahun yang lalu. Kehidupan di zaman ini mulai stabil, berkembang dan beragam. Zaman ini di bagi menjadi beberapa: 
a. Zaman Tersier, ditandai dengan mulai berkurangnya hewan-hewan besar. Telah memeiliki berbagai jenis binatang menyusui, diantaranya kera dan monyet. 
b. Zaman Sekunder, ditandai dengan munculnya tenda-tanda kehidupan manusia purba. Zaman ini dibagi kembali menjadi 2 jaman yaitu: 1) Zaman Pleistosen/dilivium (zaman es/glasial), masa ini ditandai mulai mencairnya es di kutub utara karena perubahan iklim. Berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. Pada masa inilah kehidupan manusia mulai ada. Berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. 2) Zaman Holosen/alluvium, masa ini ditandai dengan munculnya homo sapiens, merupakan nenek moyang manusia modern saat ini. Masa ini berlangsung sekitar 20.000 tahun yang lalu.

KRAKEN - SANG PENGUASA LAUTAN

Mungkin tidak ada monster legendaris yang lebih mengerikan dibandingkan dengan Kraken, penguasa lautan yang membuat para pelaut bergidik ketakutan. Apa yang menarik dari legenda Kraken adalah adanya kemungkinan kalau legenda ini mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata.

Kraken adalah seekor monster yang digambarkan sebagai makhluk raksasa yang berdiam di lautan wilayah Islandia dan Norwegia. Makhluk ini disebut sering menyerang kapal yang lewat dengan cara menggulungnya dengan tentakel raksasanya dan menariknya ke bawah.

Kata Kraken sendiri berasal dari Kata "Krake" dari bahasa Skandinavia yang artinya merujuk kepada hewan yang tidak sehat atau sesuatu yang aneh. Kata ini masih digunakan di dalam bahasa jerman modern untuk merujuk kepada Gurita.

Begitu populernya makhluk ini sampai-sampai ia sering disinggung di dalam film-film populer seperti Pirates of the Caribbean atau Clash of The Titans. Jika ada makhluk raksasa penguasa lautan, maka Krakenlah namanya.

Karakter Kraken
Kita mungkin mengira Kraken hanyalah sebuah bagian dari dongeng, namun sebenarnya tidak demikian. Sebutan Kraken pertama kali muncul dalam buku Systema Naturae yang ditulis Carolus Linnaeus pada tahun 1735.

Mr. Linnaeus adalah orang yang pertama kali mengklasifikasi makhluk hidup ke dalam golongan-golongannya. Dalam bukunya itu, ia mengklasifikasikan Kraken ke dalam golongan Chepalopoda dengan nama latin Microcosmus. Jadi, boleh dibilang kalau Kraken memiliki tempat di dalam sains modern.

Erik Ludvigsen Pontopiddan, Uskup Bergen yang juga seorang naturalis, pernah menulis di dalam bukunya Natural History of Norway yang terbit tahun 1752 kalau Kraken "tidak bisa disangkal, adalah monster laut terbesar yang pernah dikenal".

Menurut Pontopiddan, Kraken memiliki ukuran sebesar sebuah pulau yang terapung dan memiliki tentakel seperti bintang laut. Ia juga menyebutkan kalau makhluk ini bisa menggulung kapal yang lewat dengan tentakelnya dan menariknya ke dasar lautan. Namun, menurut Pontopiddan, bahaya terutama dari Kraken adalah riak air yang dashyat ketika ia menyelam ke dalam laut. Riak itu bisa menenggelamkan kapal yang ada di dekatnya.

Menariknya, selain menggambarkan Kraken sebagai makhluk yang berbahaya, Pontopiddan juga menulis mengenai sisi lain dari makhluk misterius ini. Ia menyebutkan kalau ikan-ikan di laut suka berada di dekat Kraken. Karena itu juga, para nelayan Norwegia yang mengetahui hal ini suka mengambil risiko untuk menangkap ikan dengan membawa kapalnya hingga berada tepat di atas Kraken.

Jika mereka pulang dengan membawa hasil tangkapan yang banyak, para penduduk desa tahu kalau para nelayan tersebut pastilah telah menangkap ikan tepat di atas Kraken.

Sejak lama, makhluk ini hanya dianggap sebagai bagian dari Mitologi kuno yang setara dengan sebuah dongeng. Namun ketika sisa-sisa bangkai monster ini terdampar di pantai Albaek, Denmark, Pada tahun 1853, para ilmuwan mulai menyadari kalau legenda mengenai Kraken mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata, yaitu cumi-cumi raksasa (Giant Squid), cumi-cumi kolosal (Colossal Squid) atau Gurita raksasa (Giant Octopus).

Senin, 28 Juli 2014

PERBEDAAN WARNA AIR LAUT

Pada dasarnya, air tidak memiliki warna. Air hanya menyerap cahaya matahari dan kemudian merefleksikannya sehingga air tampak seperti mempunyai warna. Kebanyakan orang menganggap bahwa air itu berwarna biru atau hijau. Hal itu di karenakan air menyerap cahaya merah, dan pada tingkat lebih rendah, air juga menyerap cahaya kuning dan hijau, menyebabkan warnanya bisa berubah-ubah tergantung kedalaman dan tempatnya. Warna biru merupakan warna yang paling tidak diserap oleh air, sehingga air nampak berwarna biru. Singkatnya, semakin dalam kedalaman laut, semakin ia berwarna kebiruan. Pada laut yang dalam, sinar-sinar berasal dari binatang-binatang yang memancarkan sinarnya sendiri seperti jenis ubur-ubur, koral, fishlet, dan lain sebagainya.
Pada lapisan air permukaan (0 – 0,5 meter) air hanya mengabsorpsi sinar inframerah yang tidak nampak oleh mata kita, sehingga dipermukaan tampaknya putih. Sampai pada kedalaman 5 meter, sinar yang diabsorpsi mula-mula sinar hijau dan sinar kebiru-biruan. Pada kedalaman 50 meter, lapisan air itu mengabsorpsi sinar yang biru hijau yang menyebabkan warna air permukan tampak biru. Cahaya merah diserap kuat, menjadikannya hilang, dan cahaya biru terus menembus kedalam. Sehingga semakin dalam suatu perairan, maka warna air laut akan terlihat berwarna biru. Sementara saat matahari mulai terbenam dan terbit, air laut akan kelihatan merah di permukaannya dikarenakan penyerapan cahaya tersebut.
Tetapi faktanya, air bisa juga menjadi warna lain. Seperti merah atau hitam. Perubahan itu terjadi karena adanya faktor cahaya matahari yang terserap oleh molekul-molekul air dan memantulkannya. Faktor lainnya adalah karena jenis endapan sedimennya atau organisme yang hidup didalamnya.
Cahaya matahari matahari terdiri dari tujuh warna (merah, oranye, kuning, hijau, biru, nila, ultraviolet). Masing-masing warna memiliki panjang gelombang tersendiri. Kemampuan cahaya untuk menembus air tergantung pada panjang gelombangnya. Semakin pendek gelombang cahaya maka akan semakin besar kekuatannya untuk menembus air. Karena itu, cahaya warna merah akan terserap pada kedalaman kurang dari 20 meter, dan setelah itu keberadaannya tersembunyi atau tidak terlihat. Disinilah mulai muncul kegelapan warna merah. Seandainya ada penyelam yang terluka dan berdarah di kedalaman kurang lebih 25 meter maka akan terlihat darah berwarna hitam bukan merah dikarenakan warna merah sudah tidak mampu menembus pada kedalaman tersebut.
Warna air laut ditentukan oleh kekeruhan air laut itu sendiri dari kandungan sedimen yang dibawa oleh aliran sungai. Pada laut yang keruh, radiasi sinar matahari yang dibutuhkan untuk proses fotosintesis tumbuhan laut akan kurang dibandingkan dengan air laut jernih. Pada perairan laut yang dalam dan jernih, fotosintesis tumbuhan itu mencapai 200 meter, sedangkan jika keruh hanya mencapai 15 – 40 meter. Laut yang jernih merupakan lingkungan yang baik untuk tumbuhnya terumbu karang dari cangkang binatang koral.
Faktor yang Menyebabkan Perbedaan Warna Air Laut :
a. Pada umumnya lautan berwarna biru, hal ini disebabkan oleh sinar matahari yang bergelombang pendek (sinar biru) dipantulkan lebih banyak dari pada sinar lain.
b. Warna kuning, karena di dasarnya terdapat lumpur kuning, misalnya sungai kuning di Cina.
c. Warna hijau, karena adanya lumpur yang diendapkan dekat pantai yang memantulkan warna hijau dan juga karena adanya plankton-plankton dalam jumlah besar.
d. Warna putih, karena permukaannya selalu tertutup es seperti di laut kutub utara dan selatan. Aliran air dari gleyser banyak membawa tepung batu yang merupakan hasil pelapukan material daratan, kemudian dibawa oleh aliran air tawar menuju estaurine.
e. Warna ungu, karena adanya organisme kecil yang mengeluarkan sinar-sinar fosfor seperti di laut ambon.
f. Warna hitam, karena di dasarnya terdapat lumpur hitam seperti di laut hitam.
g. Warna merah, karena banyaknya binatang-binatang kecil berwarna merah yang terapung-apung.