Rabu, 30 Juli 2014

JENIS MANUSIA PURBA YANG DITEMUKAN DI INDONESIA

1. Meganthropus
Manusia purba jenis Meganthropus Paleojavanicus
Gambar. Manusia purba jenis Meganthropus Paleojavanicus (Sumber: kucuba.com)
Meganthropus paleojavanicus merupakan manusia purba tertua di Indonesia yang telah ditemukan di daerah Sangiran oleh Von Koenigswald pada tahun 1936 dan tahun 1941. Kata Meganthropus Palaejavanicus sendiri berasal dari bahasa Yunani, yakni Mega;besar , Anthropus;manusia, Palaeo;tua dan Javanicus;Jawa. Makhluk ini hidup sekitar 1-2 juta tahun yang lalu dengan makanan utamanya adalah tumbuhan.
Adapun ciri-ciri Meganthropus Palaeojavanicus antara lain:
a. Tulang pipi tebal,
b. Otot rahang sangat kuat,
c. Tidak memiliki dagu,
d. Tonjolan belakang yang tajam,
e. Tulang kening menonjol ke depan,
f.   Perawakan tegap,
g. Memakan tumbuh-tumbuhan,
H. Kehidupan sosialnya hidup dalam kelompok-kelompok dan berpindah-pindah.

2. Pithecanthropus
Pithecanthropus memiliki arti sebagai manusia kera yang banyak ditemukan di daerah Perning daerah Mojokerto, Trinil (Ngawi), Kedungbrubus (Madiun) dan Sangiran (Sragen). Tjokrohandojo bersama Duyfjes (ahli purbakala) telah menemukan fosil tengkorak anak pada lapisan Pleistosen Bawah di daerah Kepuhlagen, Mojokerto yang kemudian dinamakan sebagai Pithecanthropus Mojokertensis.
Adapun ciri-ciri Pithecanthropus antara lain:
a. Rahang bawah kuat,
b. Tulang pipi tebal,
c. Kening menonjol,
d. Tulang belakang menonjol dan tajam,
e. Tidak berdagu,
f.  Memakan tumbuh-tumbuhan,
g. Perawakan tegap serta memiliki perlekatan otot tengkuk besar dan kuat.
Di Indonesia sendiri banyak ditemukan jenis Pithecanthropus antara lain:

a. Pithecanthropus Erectus (manusia kera berjalan tegak)
Pithecanthropus Erectus telah ditemukan di daerah Kedungbrubus (Madiun) dan Trinil (Ngawi) pada tahun 1890, 1891, dan 1892 oleh Dr. Eugene Dubois. Penemuan ini dianggap mampu menjadi penghubung (link) yang menghubungkan antara kera dengan manusia. Bukti ini juga didukung dengan penemuan manusia Neanderthal di Jerman.

Adapun ciri-ciri dari Pithecanthropus erectus adalah sebagai berikut:
a) Berjalan tegak,
b) Volume otaknya melebihi 900 cc,
c) Badannya tegap dengan alat pengunyah yang kuat,
d) Tinggi badan sekitar 165 – 170 cm,
e) Berat badan sekitar 100 kg,
f) Makanan masih kasar yang sedikit dikunyah,
g) Diperkirakan hidup setengah sampai satu juta tahun yang lalu.

b. Pithecanthropus Robustus (manusia kera berahang besar)
Fosil Pithecanthropus robustus ditemukan oleh Weidenreich pada tahun 1939 di daerah Sangiran, Sragen, Jawa Tengah. Selain itu ditemukan juga fosil tengkorak anak berumur sekitar 5 tahun di daerah Mojokerto oleh Von Koenigswald pada tahun 1936 – 1941 yang kemudian dikenal dengan nama Pithecanthropus Mojokertensis (manusia kera dari Mojokerto). Fosil ini memiliki ciri hidung lebar, tulang pipi kuat, tubuhnya tinggi, serta hidupnya mengumpulkan makanan (food gathering).
Di lembah Sungai Bengawan Solo banyak sekali ditemukan fosil-fosil manusia purba. Oleh karena itu, Dr. Von Koenigswald membagi lapisan Diluvium sungai tersebut menjadi 3 bagian, yakni:
1) Lapisan Jetis (Pleistosen Bawah) telah ditemukan Pithecanthropus robustus,
2) Lapisan Trinil (Pleistosen Tengah) telah ditemukan Pithecanthropus erectus,
3) Lapisan Ngandong (Pleistosen Atas) telah ditemukan Homo soloensis.

c. Pithecanthropus dubuis (dubuis artinya meragukan)
Fosil Pithecanthropus dubuis ditemukan oleh Von Koenigswald pada tahun 1939 di daerah Sangiran pada lapisan Pleistosen Bawah.

d. Pithecanthropus soloensis (manusia kera dari Solo)
Pithecanthropus soloensis ditemukan pada tahun 1931 – 1933 oleh Von Koenigswald, Oppennoorth, dan Ter Haar di daerah tepi Sungai Bengawan Solo, Jawa Tengah.

3. Homo
Homo (manusia) merupakan manusia purba yang dinilai paling modern daripada jenis manusia purba yang lain. Manusia purba jenis ini memiliki ciri-ciri sebagia berikut:
a) berat badan sekitar 30 sampai 150 kg,
b) volume otaknya lebih dari 1.350 cc,
c) alat-alatnya berasal dari batu dan tulang,
d) berjalan dengan tegak,
e) muka dan hidung lebar,
f) mulut masih menonjol ke depan.

Manusia jenis homo itu sendiri dapat kita bedakan lagi menjadi 3 jenis, yaitu:

a. Homo Wajakensis (manusia dari Wajak)
Homo wajakensis ditemukan pada tahun 1889 oleh Von Rietschoten di daerah Wajak, Tulungagung yang berupa beberapa bagian tengkorak. Fosil ini ditemukan pada Pleistosen Atas dimana termasuk dalam ras Australoid yang bernenek moyang Homo soloensis. Ini kemudian menjadi nenek moyang Australia. Homo Wajakensis oleh Von Rietschoten dimasukan kejenis sebagai manusia purba cerdas (Homo Sapiens).

b. Homo Soloensis (manusia dari Solo)
Pada tahun 1931 – 1932, ahli Geologi Belanda (C. Ter Haar dan Ir. Oppenoorth) menemukan 11 tengkorak Homo soloensis pada lapisan Pleistosen Atas di daerah Ngandong, Ngawi, Jawa Timur. Fosil itu kemudian diteliti oleh Von Koenigswald dan Weidenreich yang kemudian diketahui bahwa fosil tersebut merupakan fosil sudah manusia (bukan kera).

c. Homo sapiens
Homo sapiens merupakan manusia purba yang cerdas dan bentuk tubuhnya seperti manusia zaman sekarang. Kehidupan manusia purba ini masih sering berpindah-pindah (mengembara) dan sangat sederhana. 

Adapun ciri-cirinya adalah sebagai berikut:
a. volume otak sekitar 1.000 cc – 1.200 cc,
b. tinggi badannya bisa mencapai antara 130 – 210 m,
c. otot tengkuk telah mengalami penyusutan,
d. alat kunyah dan gigi telah mengalami penyusutan,
e. muka sudah tidak menonjol ke depan,
f. berdiri dan berjalan dengan tegak,
g. berdagu serta tulang rahangnya biasa dan tidak sangat kuat.

Ada 3 jenis subspesies dari Homo sapiens yang dianggap telah menurunkan manusia saat ini, yaitu:
1) Ras Mongoloid
Ras Mongoloid menyebar ke Asia Timur seperti Jepang, Korea, Cina dan Asia Tenggara. Jenis subspesies ini memiliki ciri-ciri kulit kuning, tipe rambut lurus dan mata sipit.
2) Ras Kaukasoid
Ras Kaukasoid menyebar ke Eropa, India Utara (ras Arya), Yahudi (ras Semit) dan menyebar ke daerah Arab, Turki serta daerah Asia Barat lainnya. Jenis subspesies ini memiliki ciri-ciri kulit putih, rambut lurus, tinggi dan berhidung mancung.
3) Ras Negroid
Ras Negroid menyebar ke Australia (ras Aborigin), Papua dan ke daerah Afrika. Jenis subspesies ini memiliki ciri-ciri kulit hitam, bibir tebal dan rambut keriting.

Selasa, 29 Juli 2014

ZAMAN PRA-AKSARA


Mempelajari bagaimana kehidupan di masa lalu merupakan kegiatan yang amat menarik. Kehidupan manusia dari zaman ke zaman senantiasa mengalami perkembangan. Kehidupan manusia pada zaman pra aksara dapat di pelajari melalui berbagai temuan fosil dan artefak sisa kehidupan dimasa lalu. Kehidupan manusia purba adalah kehidupan yang amat sederhana. Manusia purba hidup dan memenuhi kebutuhannya dengan cara berburu dan meramu, berpindah pindah dari satu empat ketempat lain (nomaden). Pada masa pra sejarah manusia belum mengenal tulisan sehingga masa ini di sebut dengan masa pra aksara. Sejak pertama kali bumi diciptakan hingga saat ini, bumi telah banyak sekali mengalami perubahan dan perkembangan. Diperkirakan bumi saat ini telah berusia kurang lebih 2.500 juta tahun. Para ahli geologi membagi masa perkembangan bumi mejadi beberapa zaman yaitu arkeozoikum, paleozoikum, mesozoikum, neozoikum.
  1. Zaman Arkeozoikum. Merupakan zaman tertua, berlangsung kira-kira 2.500 juta tahun yang lalu. Pada masa itu bumi dalam proses pembentukan, permukaan bumi masih sangat panas sehingga belum terdapat makhluk hidup yang tinggal di bumi. 
  2. Zaman Paleozoikum Disebut juga sebagai zaman primer, berlangsung kira-kira 340 juta tahun yang lalu. Zaman ini ditandai dengan terjadinya penurunan suhu yang amat drastis di bumi, bumi mendingin. Pada masa inilah makhluk hidup pertama kali diperkirakan muncul, yaitu makluk bersel satu dan tidak bertulang belakang seperti bakteri, serta sejenis amfibi.
  3. Zaman Mesozoikum Disebut juga sebagai zaman sekunder, berlangsung kira-kira 140 juta tahun yang lalu. Zaman ini ditandai dengan munculnya hewan-hewan reptil besar (dinosaurus) oleh karena itu zaman ini disebut juga zaman reptil.
  4. Zaman Neozoikum Zaman Neozoikum berlangsung kira-kira 60 juta tahun yang lalu. Kehidupan di zaman ini mulai stabil, berkembang dan beragam. Zaman ini di bagi menjadi beberapa: 
a. Zaman Tersier, ditandai dengan mulai berkurangnya hewan-hewan besar. Telah memeiliki berbagai jenis binatang menyusui, diantaranya kera dan monyet. 
b. Zaman Sekunder, ditandai dengan munculnya tenda-tanda kehidupan manusia purba. Zaman ini dibagi kembali menjadi 2 jaman yaitu: 1) Zaman Pleistosen/dilivium (zaman es/glasial), masa ini ditandai mulai mencairnya es di kutub utara karena perubahan iklim. Berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. Pada masa inilah kehidupan manusia mulai ada. Berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu. 2) Zaman Holosen/alluvium, masa ini ditandai dengan munculnya homo sapiens, merupakan nenek moyang manusia modern saat ini. Masa ini berlangsung sekitar 20.000 tahun yang lalu.

KRAKEN - SANG PENGUASA LAUTAN

Mungkin tidak ada monster legendaris yang lebih mengerikan dibandingkan dengan Kraken, penguasa lautan yang membuat para pelaut bergidik ketakutan. Apa yang menarik dari legenda Kraken adalah adanya kemungkinan kalau legenda ini mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata.

Kraken adalah seekor monster yang digambarkan sebagai makhluk raksasa yang berdiam di lautan wilayah Islandia dan Norwegia. Makhluk ini disebut sering menyerang kapal yang lewat dengan cara menggulungnya dengan tentakel raksasanya dan menariknya ke bawah.

Kata Kraken sendiri berasal dari Kata "Krake" dari bahasa Skandinavia yang artinya merujuk kepada hewan yang tidak sehat atau sesuatu yang aneh. Kata ini masih digunakan di dalam bahasa jerman modern untuk merujuk kepada Gurita.

Begitu populernya makhluk ini sampai-sampai ia sering disinggung di dalam film-film populer seperti Pirates of the Caribbean atau Clash of The Titans. Jika ada makhluk raksasa penguasa lautan, maka Krakenlah namanya.

Karakter Kraken
Kita mungkin mengira Kraken hanyalah sebuah bagian dari dongeng, namun sebenarnya tidak demikian. Sebutan Kraken pertama kali muncul dalam buku Systema Naturae yang ditulis Carolus Linnaeus pada tahun 1735.

Mr. Linnaeus adalah orang yang pertama kali mengklasifikasi makhluk hidup ke dalam golongan-golongannya. Dalam bukunya itu, ia mengklasifikasikan Kraken ke dalam golongan Chepalopoda dengan nama latin Microcosmus. Jadi, boleh dibilang kalau Kraken memiliki tempat di dalam sains modern.

Erik Ludvigsen Pontopiddan, Uskup Bergen yang juga seorang naturalis, pernah menulis di dalam bukunya Natural History of Norway yang terbit tahun 1752 kalau Kraken "tidak bisa disangkal, adalah monster laut terbesar yang pernah dikenal".

Menurut Pontopiddan, Kraken memiliki ukuran sebesar sebuah pulau yang terapung dan memiliki tentakel seperti bintang laut. Ia juga menyebutkan kalau makhluk ini bisa menggulung kapal yang lewat dengan tentakelnya dan menariknya ke dasar lautan. Namun, menurut Pontopiddan, bahaya terutama dari Kraken adalah riak air yang dashyat ketika ia menyelam ke dalam laut. Riak itu bisa menenggelamkan kapal yang ada di dekatnya.

Menariknya, selain menggambarkan Kraken sebagai makhluk yang berbahaya, Pontopiddan juga menulis mengenai sisi lain dari makhluk misterius ini. Ia menyebutkan kalau ikan-ikan di laut suka berada di dekat Kraken. Karena itu juga, para nelayan Norwegia yang mengetahui hal ini suka mengambil risiko untuk menangkap ikan dengan membawa kapalnya hingga berada tepat di atas Kraken.

Jika mereka pulang dengan membawa hasil tangkapan yang banyak, para penduduk desa tahu kalau para nelayan tersebut pastilah telah menangkap ikan tepat di atas Kraken.

Sejak lama, makhluk ini hanya dianggap sebagai bagian dari Mitologi kuno yang setara dengan sebuah dongeng. Namun ketika sisa-sisa bangkai monster ini terdampar di pantai Albaek, Denmark, Pada tahun 1853, para ilmuwan mulai menyadari kalau legenda mengenai Kraken mungkin memang berdasarkan pada sesuatu yang nyata, yaitu cumi-cumi raksasa (Giant Squid), cumi-cumi kolosal (Colossal Squid) atau Gurita raksasa (Giant Octopus).

Senin, 28 Juli 2014

PERBEDAAN WARNA AIR LAUT

Pada dasarnya, air tidak memiliki warna. Air hanya menyerap cahaya matahari dan kemudian merefleksikannya sehingga air tampak seperti mempunyai warna. Kebanyakan orang menganggap bahwa air itu berwarna biru atau hijau. Hal itu di karenakan air menyerap cahaya merah, dan pada tingkat lebih rendah, air juga menyerap cahaya kuning dan hijau, menyebabkan warnanya bisa berubah-ubah tergantung kedalaman dan tempatnya. Warna biru merupakan warna yang paling tidak diserap oleh air, sehingga air nampak berwarna biru. Singkatnya, semakin dalam kedalaman laut, semakin ia berwarna kebiruan. Pada laut yang dalam, sinar-sinar berasal dari binatang-binatang yang memancarkan sinarnya sendiri seperti jenis ubur-ubur, koral, fishlet, dan lain sebagainya.
Pada lapisan air permukaan (0 – 0,5 meter) air hanya mengabsorpsi sinar inframerah yang tidak nampak oleh mata kita, sehingga dipermukaan tampaknya putih. Sampai pada kedalaman 5 meter, sinar yang diabsorpsi mula-mula sinar hijau dan sinar kebiru-biruan. Pada kedalaman 50 meter, lapisan air itu mengabsorpsi sinar yang biru hijau yang menyebabkan warna air permukan tampak biru. Cahaya merah diserap kuat, menjadikannya hilang, dan cahaya biru terus menembus kedalam. Sehingga semakin dalam suatu perairan, maka warna air laut akan terlihat berwarna biru. Sementara saat matahari mulai terbenam dan terbit, air laut akan kelihatan merah di permukaannya dikarenakan penyerapan cahaya tersebut.
Tetapi faktanya, air bisa juga menjadi warna lain. Seperti merah atau hitam. Perubahan itu terjadi karena adanya faktor cahaya matahari yang terserap oleh molekul-molekul air dan memantulkannya. Faktor lainnya adalah karena jenis endapan sedimennya atau organisme yang hidup didalamnya.
Cahaya matahari matahari terdiri dari tujuh warna (merah, oranye, kuning, hijau, biru, nila, ultraviolet). Masing-masing warna memiliki panjang gelombang tersendiri. Kemampuan cahaya untuk menembus air tergantung pada panjang gelombangnya. Semakin pendek gelombang cahaya maka akan semakin besar kekuatannya untuk menembus air. Karena itu, cahaya warna merah akan terserap pada kedalaman kurang dari 20 meter, dan setelah itu keberadaannya tersembunyi atau tidak terlihat. Disinilah mulai muncul kegelapan warna merah. Seandainya ada penyelam yang terluka dan berdarah di kedalaman kurang lebih 25 meter maka akan terlihat darah berwarna hitam bukan merah dikarenakan warna merah sudah tidak mampu menembus pada kedalaman tersebut.
Warna air laut ditentukan oleh kekeruhan air laut itu sendiri dari kandungan sedimen yang dibawa oleh aliran sungai. Pada laut yang keruh, radiasi sinar matahari yang dibutuhkan untuk proses fotosintesis tumbuhan laut akan kurang dibandingkan dengan air laut jernih. Pada perairan laut yang dalam dan jernih, fotosintesis tumbuhan itu mencapai 200 meter, sedangkan jika keruh hanya mencapai 15 – 40 meter. Laut yang jernih merupakan lingkungan yang baik untuk tumbuhnya terumbu karang dari cangkang binatang koral.
Faktor yang Menyebabkan Perbedaan Warna Air Laut :
a. Pada umumnya lautan berwarna biru, hal ini disebabkan oleh sinar matahari yang bergelombang pendek (sinar biru) dipantulkan lebih banyak dari pada sinar lain.
b. Warna kuning, karena di dasarnya terdapat lumpur kuning, misalnya sungai kuning di Cina.
c. Warna hijau, karena adanya lumpur yang diendapkan dekat pantai yang memantulkan warna hijau dan juga karena adanya plankton-plankton dalam jumlah besar.
d. Warna putih, karena permukaannya selalu tertutup es seperti di laut kutub utara dan selatan. Aliran air dari gleyser banyak membawa tepung batu yang merupakan hasil pelapukan material daratan, kemudian dibawa oleh aliran air tawar menuju estaurine.
e. Warna ungu, karena adanya organisme kecil yang mengeluarkan sinar-sinar fosfor seperti di laut ambon.
f. Warna hitam, karena di dasarnya terdapat lumpur hitam seperti di laut hitam.
g. Warna merah, karena banyaknya binatang-binatang kecil berwarna merah yang terapung-apung.

Minggu, 27 Juli 2014

TEORI PEMBENTUKAN ALAM SEMESTA


A.      Teori Kabut
Teori kabut dikemukakan oleh dua orang ilmuan yaitu Imanuel Kant (1724-1804) seorang ahli filsafat bangsa Jerman dan Piere Simon Laplace (1749-1827) ahli astronomi bangsa Perancis. Kant mengemukakan teorinya tahun 1755, sedangkan Laplace mengemukakan tahun 1796 dengan nama Nebular Hypothesis.
Pada akhir abad ke-19 teori kabut disanggah oleh beberapa ahli seperti James Clark Maxwell yang memeberikan kesimpulan bahwa bila bahan pembentuk planet terdistribusi disekitar matahari membentuk suatu cakram atau suatu piringan, maka gaya yang disebabkan oleh perbedaan perputaran (kecepatan anguler) akan mencegah terjadinya pembekuan planet. Pada abad ke-20 percobaan dilakukan untuk membuktikan terbentuknya cincin-cincin Laplace, menunjukkan bahwa medan magnet dan medan listrik matahari tekah merusak proses pembekuan batu-batuan. Jadi tidak ada alasan yang kuat untuk menyatakan bahwa cincin gas dapat membeku membantuk planet. 
B.       Teori Planetisimal
Teori planetisimal pertama kali dikemukakan oleh Thomas C. Chamberlain dan Forest R. Moulton pada tahun 1900. Hipotesis planetisimal mengatakan bahwa tata surya kita terbentuk akibat adanya bintang lain yang hampir menabrak matahari.
C.     Teori Pasang Surut Bintang
Teori pasang surut bintang pertama kali dikemukakan oleh James Jean dan Herold Jaffries pada tahun 1917. Hipotesis pasang surut bintang sangat mirip dengan hipotesis planetisimal. Namun perbedaannya terletak pada jumlah awalnya matahari.
D.      Teori Kondensasi
Teori kondensasi mulanya dikemukakan oleh astronom Belanda yang bernama G.P. Kuiper (1905-1973) pada tahun 1950. Hipotesis kondensasi menjelaskan bahwa tata surya terbentuk dari bola kabut raksasa yang berputar membentuk cakram raksasa.
E.     Teori Bintang Kembar
Menurut teori bintang kembar, awalnya ada dua buah bintang yang berdekatan (bintang kembar), salah satu bintang tersebut meledak dan berkeping-keping. Akibat pengaruh grafitasi dari bintang kedua, maka kepingan-kepingan itu bergerak mengelilingi bintang tersebut dan berubah menjadi planet-planet. Sedangkan bintang yang tidak meledak adalah matahari.
F.      Teori Ledakan Maha Dahsyat (Big Bang)
Pada awal abad ke-21 muncul teori ledakan maha dahsyat Big Bang,  membentuk keseluruhan alam semesta sekitar 15 milyar tahun yang lalu. Jagat raya tercipta dari suatu ketaidaan sebagai hasil dari ledakan satu titik tunggal. Pada awalnya alam semesta ini berupa satu massa maha padat. Massa maha padat ini dapat dianggap suatu atom maha padat dengan ukuran maha kecil yang kemudian mengalami reaksi radioaktif dan akhirnya mneghasilkan ledakan maha dahsyat.  

TATA SURYA



Gambaran umum Tata Surya (Ukuran planet digambarkan sesuai skala, sedangkan jaraknya tidak): MatahariMerkurius,VenusBumiMarsCeresYupiterSaturnusUranusNeptunus,PlutoHaumeaMakemake dan Eris.Tata Surya adalah kumpulan benda langit yang terdiri atas sebuah bintang yang disebut Matahari dan semua objek yang terikat oleh gaya gravitasinya. Objek-objek tersebut termasuk delapan buah planet yang sudah diketahui dengan orbit berbentuk elips, lima planet kerdil/katai, 173 satelit alami yang telah diidentifikasi, dan jutaan benda langit (meteorasteroidkomet) lainnya.
Tata Surya terbagi menjadi Matahari, empat planet bagian dalamsabuk asteroid, empat planet bagian luar, dan di bagian terluar adalah Sabuk Kuiper dan piringan tersebarAwan Oort diperkirakan terletak di daerah terjauh yang berjarak sekitar seribu kali di luar bagian yang terluar.
Berdasarkan jaraknya dari Matahari, kedelapan planet Tata Surya ialah Merkurius (57,9 juta km), Venus (108 juta km), Bumi (150 juta km), Mars (228 juta km), Yupiter (779 juta km), Saturnus (1.430 juta km), Uranus (2.880 juta km), dan Neptunus (4.500 juta km). Sejak pertengahan 2008, ada lima objek angkasa yang diklasifikasikan sebagai planet kerdil. Orbit planet-planet kerdil, kecuali Ceres, berada lebih jauh dari Neptunus. Kelima planet kerdil tersebut ialah Ceres (415 juta km. di sabuk asteroid; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kelima), Pluto (5.906 juta km.; dulunya diklasifikasikan sebagai planet kesembilan), Haumea (6.450 juta km), Makemake (6.850 juta km), dan Eris(10.100 juta km).
Enam dari kedelapan planet dan tiga dari kelima planet kerdil itu dikelilingi oleh satelit alami. Masing-masing planet bagian luar dikelilingi oleh cincin planet yang terdiri dari debu dan partikel lain.